DAMAGE MECHANISM

1.     Water base
Padatan lumpur yang tidak bisa larut dalam kombinasi HCl : HF (12 % : 3 %) dialirkan jauh ke dalam lubang bor.
2.     Oil base
Untuk menghilangkan oil based mud filtrate damage digunakan solvent seperti xylene preflush dengan water wet surfactant.
3.     Lumpur pemboran
Kalau banyak lumpur yang masuk ke formasi, tidak akan mudah menghilangkannya, dalam hal ini digunakan chelating agent dan supending surfactant.
4.     Perforasi  
Perforasi telah berkembang dengan baik dalam masa-masa terakhir ini. Adanya underbalance dan juga overbalance dengan nitrogen dimana lumpur tidak digunakan, akan menyebabkan produksi yang baik. Damage yang terjadi selama perforasi, diakibatkan perforation debris dan formation compaction.
5.     Completion fluid   
Completion fluid harus disaring dan bersih, tetapi kontaminasi dari dasar tanki, proses filtrasi yang jelek atau kurang teliti masih dapat terjadi dan menyebabkan damage. Penggunaan larutan Ca pada sumur mengandung CO2 dapat menyebabkan terjadinya CaCO3 (scale).
6.     Fluid loss pill
Fluid loss pill dapat menghentikan fluid loss tetapi sulit untuk dibersihkan. Fluid loss pill bisa berupa bridgesal/hysal, litesal, dan temblok. Bridgesal/hysal dapat dihilangkan dengan asam lemah HCl 10 % atau asam asetat 10 %. Sedangkan litesal bisa dihilangkan dengan 15 % HCl. Temblok dapat dihilangkan dengan 15 % HCl.
7.     Migrating fines
Kaolinet dan illite dan microporous chert sering terdapat pada fine migration. Fine migration disebabkan oleh gelombang aliran yang besar disepanjang formasi, atau naiknya produksi air. Penyebab lain adalah over acidizing dan masuknya ionic strength yang berlainan dengan air formasi. Fines didiagnosa dengan pump-in test dengan crude oil lapangan atau brine untuk dry gas reservoir yang menyebabkan fines menjauh dari lubang sumur. Setelah diproduksikan kembali, produksi akan naik dan akan turun jika fine-nya kembali. Dengan mengetahui production curves, naiknya produksi air dan mineral formasi dapat menentukan adanya problem fines tsb. Fines dapat dihilangkan dengan kombinasi HCl : HF (12 % : 3 %) atau dengan fluboric acid bila T<150 0F.  
8.     Clay swelling
Clay swelling (pembengkakan clay) dapat terjadi karena air yang kontak dengan mineral smectite, illite atau chloriteSmectite dapat memuai menjadi 10 kali lipat. Clay swelling dapat dihilangkan dengan mud acid yang akan melarutkan clay.
9.     Wettability alteration
Perubahan wettability formasi dari water wet ke oil wet terutama terjadi pada formasi berpermeabilitas rendah (<25 md) akibat surfactant yang salah pilih. Acid additives seperti surfactant atau corrosion inhibitor dapat menyebabkan perubahan wettability. Untuk menghidarkan hal ini maka surfactant yang dipilih harus benar atau gunakan mutual solvent. Water wettability dapat dikembalikan dengan pemompaan mutual solvent dan water wetting surfactant.
10.   Organic desposition
Paraffin yang terlarut di crude atau asphaltene adalah suatu colloidal solids pada crude yang terdapat pada condensate. Paraffin mengendap apabila temperatur turun di bawah cloud point. Kondisi ini dapat terjadi pada tubing, flow line atau peralatan produksi. Asphaltene bisa terjadi karena proses polymerisasi atau karena adanya asam. Asphaltene sludging lebih gawat lagi jika konsentrasi asam naik >15 %. Metode penanggulangannya adalah dengan solvent setelah dilakukan solubility test. Tidak semua paraffin dan asphaltene akan terlarut dalam xylene. Kalau crude di lapangan mendapatkan problem karena pengasaman maka crude oil tersebut harus diuji di lab untuk ditambahkan anti sludging agent yang cocok.
11.   Scale
Scale  calcium carbonate (CaCO3) dan calcium sulfate (CaSO4) larut dalam HCl, sedangkan barium sulfate (BaSO4) harus dihilangkan dengan milling. Scales inhibitor adalah cara terbaik untuk mencegah terbentuknya scales.
Selain ketiga scale di atas ada lagi jenis scales seperti Iron sulfate (FeS), iron oxide (FeO), strontium sulfate (SrSO4) dan iron carbonate (FeCO3). Iron oxide (karat) dan Iron carbonate dapat larut dalam asam. Iron sulfate biasanya dijumpai pada tubing yang dapat dihilangkan dengan tubing pickle (acid wash di tubing).
12.   Injection well plugging

Pada sumur injeksi sering terjadi penurunan injection rate dan kenaikan injection pressure yang menunjukkan adanya formation damage. Jika tekanan di dasar sumur terlalu tinggi maka akan terjadi fracture (rekahan) yang sulit untuk ditanggulangi. Plugging dapat terjadi kerena hydrocarbon, iron sulfide, iron oxide, calcium carbonate, silica, dan bacteria mati/hidup. Analisa air untuk scaling tendency, solid content, oil percentage atau grease dan bacteria count harus dilakukan. 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "DAMAGE MECHANISM"

Post a Comment