LITHOLOGI PADA PEMBORAN PANAS BUMI

Eksplorasi terhadap sumber panas bumi pada dasarnya dilakukan dengan tahapan antara lain : perijinan serta persetujuan dari daerah setempat, penyelidikan terhadap tanda-tanda indikasi dipermukaan seperti hot springs serta indikasi lainnya, geochemical survey, geophysical survey, evaluasi serta pengukuran “heat flow” pada pemboran dangkal kemudian baru dilakukan pemboran sumur dalam dan uji/test alir uap panas.

Pemboran panas bumi tahap eksplorasi selalu dilakukan setelah hasil-hasil evaluasi dari tahapan-tahapan penyelidikan dan survey tersebut di atas memberi gambaran akan kemungkinan adanya sumber panas bumi pada lokasi yang akan di bor. Sedangkan tahap pemboran Eksploitasi atau pengembangan dilakukan setelah diketahuinya adanya sumber panas bumi yang telah terbukti pada saat pemboran eksplorasi serta perkiraan jumlah / besarnya kapasitas reservoar yang tersedia.

Didalam pelaksanaan pemboran sumur-sumur panas bumi selalu dihadapkan pada litologi batuan yang sangat keras (hard rock lithologi) yang berbentuk kristalin atau batuan beku atau batuan metamorf.
Batuan ini terbentuk karena pendinginan dan penyerapan magma dan atau terbentuk di dalam kerak bumi yang merupakan transformasi dari batuan yang sudah ada sebelumnya karena panas, tekanan dan meneraksasi.

Berikut contoh-contoh nama litologi batuan serta kekerasan batuan yang pada umumnya dijumpai pada saat kita membor sumur panas bumi adalah sebagai berikut :
Litologi
1.     Andesit Terubah (AT)
2.     Tufa Terubah (TT)
3.     Breksi Andesit Terubah (BAT)
4.     Breksi Tufa Terubah (BTT)
5.     Andesit Basaltis Terubah (ABT)
Kekerasan Batuan adalah antara sedang sampai keras sekali, namun pada umumnya keras hingga keras sekali. Contoh litologi batuan pada kedalaman pemboran suatu pemboran panas bumi dapat dilihat pada laporan harian Geologi pada pemboran sumur KMJ-78 trayek 13 3/8” terlampir.

Panas bumi di Indonesia yang mempunyai potensi menghasilkan uap pada umumnya hingga saat ini pelaksanaan pemboran rata-rata sampai kedalaman kurang dari 3.000 meter dengan suhu fluida/uap di permukaan mencapai 100o C dengan tekanan kepala sumur 500 – 1000 psi.
Sebagian besar penyebab panas yang dihasilkan didapat dari sistim konduksi panas ke reservoar (Conduction-Dominated System).

Diagram dari hydrothermal reservoar seperti tersebut di bawah ini.



Cadangan / sumber minyak dan gas bumi maupun panas bumi terdapat pada batuan yang mempunyai porositas dan dapat mengalirkan/dialiri fluida (porous and permeable). Cadangan minyak dan gas bumi dapat ditemukan pada batuan sedimen yang umumnya terletak di dataran rendah atau lepas pantai bahkan laut dalam dan merupakan energi yang tidak terbarukan, sedang panas bumi dapat ditemukan pada batuan vulkanik atau batuan beku yang dekat dengan sumber panas (magma) dan merupakan energi yang terbarukan.


Sebagai perbandingan perangkap/jebakan/trap minyak dan gas bumi dapat ditemui pada lapisan-lapisan batuan sedimen yang terbentuk seperti gambar berikut ini  dan litologi batuan yang ditembus pada umumnya clay, siltstone, sandstone, shale, limestone, dolomit dan sebagai nya.

Dengan mengetahui kondisi permukaan tanah maupun bawah tanah pada lokasi dimana akan dilakukan pemboran sumur-sumur panas bumi maka kita dapat mempersiapkan sebaik-baiknya pembuatan lokasi serta persiapan peralatan pemboran sesuai dengan karakter pemboran panas bumi.

Hal yang utama pada saat operasi pemboran panas bumi, yang perlu diperhatikan adalah saat menembus batuan reservoar (zona produktif) pada umumnya  formasinya tidak tahan menahan hidrostatis kolom cairan lumpur pemboran, meskipun lumpur yang digunakan adalah air. Dengan kata lain mengalami “loss circulation”, baik partial loss ataupun total loss.   


Namun demikian operasi pemboran tetap dilakukan karena kondisi ini adalah kondisi yang memang kita kehendaki. Operasi pemboran dengan kondisi total loss circulation (tidak ada aliran balik sirkulasi) disebut dengan “blind drilling” (bor buta) yang akan diterangkan lebih rinci pada bab selanjutnya.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "LITHOLOGI PADA PEMBORAN PANAS BUMI"

Post a Comment