LEADERSHIP ON THE RIG

Pada pembahasan ini disepakati untuk menggunakan istilah pekerja sebagai crew RIG dan pengawas adalah companyman atau Wellwork Representative (WWR) atau Wellsite Manager (WSM). Di dalam pelaksanaan kerja sehari hari pengawas bersama dengan sekelompok orang melakukan pekerjaan sumur berdasarkan well program, menggunakan RIG beserta perangkatnya, dan didukung oleh pengetahuan operational dan aspek keselamatan untuk memproduksikan sumur dengan segera untuk menghasilkan hydrocarbon. Untuk mengawasi pelaksanaan kerja, seorang pengawas lapangan harus mampu berlaku sebagai seorang manager (job oriented) dan leader (people oriented). Jadi secara garis besar tugas dari pengawas lapangan, secara teknis dan managerial terdiri dari:
·          Organizing/coordinating
·          Planning
·          Directing
·          Inspiring
·          Communicating
·          Motivating/stimulating
·          Decision making
·          Controlling
ORGANIZING/COORDINATING
Organisasi adalah suatu sistem sosial dan penggabungan dari ilmu pengetahuan, teknologi, dan kemanusiaan. Pengawas lapangan di dalam memimpin sekelompok pekerja tidak hanya mengandalkan pengetahuan operasi (job oriented) tetapi juga harus mempunyai kemampuan mengenali para pekerja berdasarkan latar belakang dan kulturnya. Seperti pada pembahasan di atas, ciri khas dari kepala kerja atau pengawas lapangan yang berhasil adalah melakukan pendekatan yang bersifat people oriented secara ratio, emosional dan sosial.  
Ciri ciri pengawas yang berhasil:
a.     Menjadikan pekerja yang mempunyai rasa memiliki (sense of belonging) di dalam memelihara dan menangani aset perusahaan
b.     Mempunyai team yang kompak dengan rasa persaudaraan yang tinggi (team spirit)
c.     Mempunyai pekerja yang mau dan mampu melakukan tugas dengan sukarela tanpa ada unsur paksaan untuk menghasilkan produksi yang selamat
Seorang pengawas yang baik bukan hanya menjadi seorang pemimpin bagi para pekerjanya tapi dapat menjadi seorang bapak baik di lapangan maupun di luar tempat kerja. Dari pengalaman, kita dapat melihat bahwa berhasilnya beberapa pemimpin bukan hanya karena penanganan secara formal seperti hubungan antara atasan dan bawahan tetapi juga dengan melakukan penanganan hubungan berdasarkan kekeluargaan (informal).
Ciri ciri penanganan formal:
a.     Memberikan perintah kerja dengan sistem rantai komando (struktur organisasi)
b.     Selalu mengacu kepada peraturan yang baku
c.     Job oriented
d.     Mengabaikan emotional
e.     Penilaian terhadap bawahan kurang objective
Ciri ciri penanganan informal:
a.                             Menciptakan komunikasi dua arah melalui pendekatan moril
b.                             Mendengarkan pendapat bawahan
c.                             Membina hubungan baik tanpa mengurangi wibawa pengawas
d.                             Mempunyai tanggung jawab moril terhadap sesama team
e.     People oriented, mengerti akan latar belakang, kemampuan, serta sifat bawahan
f.                              Menghargai hasil kerja bawahan
g.     Melakukan counselling/coaching terhadap pegawai untuk mengetahui kemampuan serta keinginannya dengan menggunakan methoda psikolog atau interview
Dengan menggabungkan kedua cara penanganan di atas, pengawas beserta bawahan dapat mencapai kesepakatan di dalam mencapai target.
PLANNING
Langkah serta kebutuhan kerja yang tidak terencana dengan baik akan menimbulkan keterlambatan, kerugian, dan kecelakaan. Seorang pengawas lapangan, dengan berdasarkan well program serta RIG schedule yang diterima, jauh hari sebelumnya sudah menghitung dan meminta kebutuhan untuk lokasi kerja berikutnya. Apabila kebutuhan tidak mencukupi, setelah membicarakan dengan PE atau program owner/well owner pekerjaan dapat dibatalkan. Tindakan “melengkapi sambil jalan atau untuk emergency” tidak boleh dilakukan karena dapat memperburuk kondisi kerja. Untuk jelasnya dapat dilihat pada Manual 5 wellwork bab Logistic.
DIRECTING
Seorang pengawas kerja akan memimpin serta memerintahkan bawahannya untuk mencapai sasaran perusahaan yang telah ditetapkan sesuai dengan proses hierarchy yang berlaku. Tipe pengawas seperti ini cocok untuk membawahi pekerja yang sudah matang dan dapat mandiri tanpa harus diawasi secara terus menerus.
INSPIRING
Pengawas kerja yang sudah berpengalaman dan menguasai tekhnik operasi dapat menimbulkan rasa percaya diri bagi para pekerja sehingga mereka akan terinspirasi atau akan terbangkitkan semangat kerjanya. Biasanya pada kondisi seperti ini pekerja akan lebih berkompetisi dalam menyelesaikan target atau lebih mandiri dengan perkataan lain pengawas lapangan tidak perlu selalu mendikte para pekerja karena mereka akan lebih agresif dan kreatif menghadapi berbagai kondisi dan tidak bersifat menunggu perintah atasan.
COMMUNICATING
Pengawas kerja yang komunikatif adalah orang yang mau menyediakan waktu untuk mendengarkan apa yang disampaikan oleh bawahan baik berupa keluhan maupun masukan atau bila perlu dapat menjadi jembatan untuk menyampaikannya ke atasan atau team yang berwenang. Biasanya hal yang disampaikan bawahan bukan hanya masalah operational tetapi juga merupakan masalah di luar pekerjaan. Mau mendengarkan apa yang disampaikan bawahan artinya pengawas kerja sudah memenangkan satu point. Net working atau jaringan yang dibina oleh team/pekerja dengan team/pekerja lainnya sangat menentukan suksesnya suatu pekerjaan.
Hilangnya atau gagalnya rantai komunikasi di lapangan biasanya disebabkan:
a.     Pengawas menganggap sitem rantai komando sudah cukup
b.     Tidak tercipta komunikasi dua arah (antara atasan dan bawahan mempunyai perbedaan visi dan misi)
c.     Menggunakan bahasa yang salah
d.     Mengabaikan kultur, watak atau sifat dari setiap individu
e.     Melakukan komunikasi pada situasi dan kondisi yang kurang tepat
f.      Selalu menggunakan komunikasi tulisan, padahal komunikasi lisan lebih mengena sasaran dari pada tulisan
Seorang pengawas harus mempunyai atau membina komunikasi yang baik dengan atasan, teman sejawat, dan bawahan. Aktifnya seorang pengawas memimpin pertemuan adalah salah satu cara untuk berlatih berkomunikasi dengan baik serta mendekatkan diri dengan bawahan.
MOTIVATING
Di dalam sebuah kelompok kerja istilah motivasi sering digunakan, yang diartikan sebagai dorongan atau keinginan seseorang untuk melakukan sesuatu. Istilah difficult people (orang-orang sulit) diberikan kepada pekerja yang enggan atau menolak melakukan tugas yang diberikan, sering juga mereka disebut pemalas atau pembangkang. Pada hakekatnya mereka bukanlah demikian, ada sesuatu alasan mengapa mereka demikian. Pengalaman kerja, keahlian, dan latar belakang dapat menjadi penyebabnya dan kondisi ini harus dipahami oleh pengawas. Jadi istilah yang tepat untuk mereka adalah adalah low motivated people. Pengawas kerja harus dapat mempertimbangkan hal ini, yaitu dengan menempatkan/menugaskan mereka sesuai dengan kondisi dan latar belakangnya.
Pekerja dengan motivasi tinggi:
a.     Mempunyai komitmen yang tinggi terhadap tujuan organisasi. Dalam keadaan seperti ini seorang pekerja mempunyai keterikatan secara batiniah serta berusaha sekuat tenaga untuk mencapai tujuan organisasi yang seolah-olah sudah menjadi tujuan pribadi.
b.     Team spirit yang kuat, hubungan para pekerja satu sama lain  saling mempercayai atau tidak saling mencurigai. Orang merasa “kerasan/betah” di kelompok kerjanya. Pada kondisi ini setiap individu telah mempunyai synergy yang baik satu sama lainnya dan  siap untuk bekerja sama dan saling membantu. Dengan terciptanya suatu team work dan rasa ikut memiliki sangat tinggi maka beban pekerjaan akan terasa ringan dan mudah diselesaikan.
c.     Kreativitas individual. Kreativitas dalam hal ini muncul dalam usaha untuk selalu mencari cara cara/peluang baru untuk mengerjakan sesuatu dengan lebih baik.
Dari penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa motivasi adalah “keinginan dari dalam (inner state) yang mendorong, mengaktifkan dan mengarahkan tingkah laku untuk mencapai tujuan”. Atau dengan perkataan lain: “dorongan dari dalam yang pada suatu saat muncul dalam bentuk tingkah laku yang diarahkan kesuatu tujuan tertentu dimana dorongan tersebut disebabkan oleh adanya kebutuhan”.
Lima jenis kebutuhan yang menimbulkan motivasi seseorang yang harus diketahui   pengawas kerja:
a.     Kebutuhan physiologi seperti kebutuhan makanan, minuman, dan tidur
b.     Kebutuhan sekuriti seperti kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan adanya jaminan hari tua seperti dana pensiun
c.     Kebutuhan sosial seperti kebutuhan agar diterima dalam suatu lingkungan sosial seperti kebutuhan persahabatan atau keakraban
d.     Kebutuhan dihargai (esteem need) seperti kebutuhan akan martabat/status
e.     Kebutuhan aktualisasi diri seperti kebutuhan yang merupakan wujud pandangan hidup menjadi kenyataan
DECISION MAKING
Seorang pengawas harus dapat mengambil atau membuat keputusan dengan cepat, tepat dan akurat di dalam menghadapi kondisi yang kritis. Sebagai contoh, sumur yang kick akan berubah menjadi blow out apabila tidak ditangani dengan cepat dan tepat.
Siklus pengambilan keputusan:
a.     Reaksi panca indra (sensing)
Panca indra seseorang secara terus menerus diganggu dan dirangsang oleh keadaan dan kejadian di luar dirinya. Sebagian dari rangsangan ini ditanggapi oleh panca indra serta disampaikan ke otak yang merupakan informasi dan di-input untuk diolah.
b.     Interpretasi
Input yang diterima otak tersebut diproses dan dibandingkan dengan informasi yang telah direkam sebelumnya, diinterpretasikan dan diambil pengertiannya. Pengertian yang berupa impresi, konklusi, asumsi dan sebagainya akan berbeda bagi setiap orang. Perbedaan ini diakibatkan perbedaan perasaan, pengalaman, harapan, dan keinginan.
c.     Perasaan (feeling)
Dengan adanya perbedaan di atas, input tersebut akan memberikan pengaruh yang berbeda pada setiap orang seperti panik, tenang, marah, atau shock.
d.     Kehendak (intention)
Dengan adanya berbagai perasaan yang timbul akibat interpretasi dari informasi yang masuk, akan timbul keinginan untuk berbuat dan bertindak yang mendesak untuk dipenuhi.
e.     Keputusan (decision)
Sebagai akibat dari keinginan yang mendesak untuk dipenuhi, maka orang memutuskan untuk bertindak dan berbuat sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Ada kalanya sebahagian dari kehendak ini ditekan karena dipengaruhi keadaan dan orang-orang di sekelilingnya.
f.      Pelaksanaan (commitment)
Keputusan akan diikuti oleh pelaksanaan. Hal ini akan terlihat pada tindakan dan tingkah laku pengambil keputusan. Tindakan dan tingkah laku akan memberikan pengaruh dan perubahan pada keadaan dan lingkungan. Selanjutnya lingkungan yang telah mendapat pengaruh dan perubahan akan memberikan rangsangan balik terhadap panca indra pengambil keputusan, demikianlah siklus ini berjalan seterusnya. Pada situasi yang kritis, pengawas yang berpengalaman dapat mengambil keputusan dengan cepat, tepat dan akurat dengan menggunakan sarana dan peralatan yang ada dilapangan tanpa menunggu keputusan dari atasan.
CONTROLLING
Pelaksanaan memonitor segala kegiatan. Proses ini meliputi:
a.     Mengontrol pelaksanaan kerja apakah sudah mengikuti prosedur yang berlaku atau sesuai dengan perintah yang diberikan termasuk aspek keselamatan dan penggunaan material/peralatan
b.     Memberi penghargaan untuk hasil kerja yang baik termasuk pujian
c.     Memperbaiki serta mengajar kembali untuk hasil kerja yang salah
d.     Memberi peringatan untuk kesalahan yang dilakukan secara berulang
e.     Memberikan teguran yang lebih keras untuk pekerja yang melakukan tindakan indisipliner
f.      Mengikutkan pekerja dalam proses pelatihan untuk pengembangan karir
g.     Mengontrol biaya yang digunakan


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "LEADERSHIP ON THE RIG"

Post a Comment