1.
Pelaksanaan Perforator dan
Peralatan Perforasi
Peralatan perforasi terangkum dalam
suatu perforator gun, dimana jenisnya dapat digolongkan bullet
perforator dan shaped large perforator. Perbedaan dari kedua tipe ini
adalah pada jenis peluru pelubang.
Bulet Perforator
Gambar (4.14) memperlihatkan alat
perforasi jenis ini. Komponen utama dari bullet
perforator meliputi :
Ø Fluida seal disk yang menahan
masuknya fluida sumur ke dalam alat diman dapat melemahkan kekuatan membakar powder.
Ø Gun barrel
Ø Gun body, dimana barrel disekrupkan dan
juga untuk menempatkan sumbu (igniter) dan propelant dengan shear disk
didasarnya, untuk memegang bullet ditempatnya sampai tekanan maksimum
tercapai karena terbakarnya powder.
Ø Bullet
Ø Thead sell
Ø Shear Disk
Ø Powder Centrifuge
Ø Contact-pin Assembly
Ø Back Contack Spring
Prinsip kerja bullet perforator karena arus listrik melalui wireline
timbul pembakaran pada propelant dalam centrifuge-tube sehingga terjadi
ledakan yang melontarkan bullet dengan kecepatan tinggi.
Keuntungannya
:
1.
Bullet
lebih murah dan mudah dari jet perforator
2.
Bullet
menyebabkan perekahan formasi yang dapat dipakai pada formasi yang tebal
3.
Perforasi yang dihasilkan bersifat
“burrless” (rata pada bagian dalam) serta lubang berbentuk bulat, dengan
kondisi ini maka sebagian perforasi dapat ditutup dengan klep-klep bola/ball
sealer sementara waktu diperlukan
4.
Bullet
cocok untuk formasi lunak, dimana ia dapat menebus lebih dalam dibanding jet
Keterbatasannya
1.
Efek fracturing dapat
merugikan bila lapisan produktif tipis-tipis dan air atau fluida formasi
lainnya ikut terproduksi pula
2.
Bullet
tidak dapat digunakan untuk temperatur yang tinggi, lebih dari 250 oF
3.
Bullet
sukar menembus formasi yang keras, dan untuk casing yang terlalu tebal/berlapis-lapis
4.
Bullet
yang ukuran kecil tidak memberikan hasil
yang baik
Jet Perforator
Proses perforasi dengan jet
perforator dilukiskan dalam Gambar 4.15.
Detonator elektris memulai
reaksi berantai dimana berturut-turut meledakkan primacord, booster berkecepatan tinggi di dalam change dan akhirnya peledak utama.
Tekanan tinggi yang dihasilkan oleh bahan peledak menyebabkan logam di dalam charge liner mengalir, memisahkan inneer
dan outer liner. Pembentukan tekanan lebih lanjut pada liner menyebakan suatu
dorongan jet berkecepatan tinggi dan menyebabkan suatu dorongan jet
berkecepatan tinggi dan pertikel-partikel yang dimuntahkan dari cone pada
kecepatan sekitar 20.000 ft/sec tekanan pada titik unjungnya kira-kira 5 juta
psi.
Selubung terluar liner rusak untuk
membentuk suatu gerakan aliran metal yang rendah dengan kecepatan antara 1500
dan 3000 psi. Sisa outer liner ini mungkin dapat membentuk slug tunggal yang
disebut sebagai carrot atau aliran partikel-partikel logam.
Keuntungannya
1.
Dapat digunakan untuk temperatur
sampai 400 oF
2.
Rekahan yang terjadi tidak terlalu
besar sehingga cocok untuk formasi yang tipis
3.
Lebih banyak tembakan yang dapat
dilakukan untuk sekali penurunan gun ke dalam sumur, sehingga untuk formasi
dengan interval yang panjang akan lebih baik dan murah.
4.
Jet perforator menembus formasi keras tapi baik
5.
Untuk operasi dalam tubing (parmaneny
type completion) hanya jet yang cocok karena alat untuk bullet memerlukan
diameter yang besar agar peluru cukup besar diameternya
Keterbatasannya
1.
Rekahan yang terbentuk tidak
terlalu lebar sehingga tidak banyak membantu meningkatkan permeabilitas pada
lapisan yang tebal
2.
Penggunaan ball sealer
tidak dapat dipakai karena hasil pelubangan yang runcing dibagian dalam dan
tidak bulat di bagian luar
3.
Jet lebih mahal jika dibandingkan
dengan bullet bila dipakai pada interval perforasi yang pendek atau sedikit
jumlah penembakannya
Pengerjaan perforasi ini sangat
penting sekali karena mempengaruhi produktivitas sumur. Beberapa hal yang perlu
direncanakan dalam pengerjaan perforasi adalah menentukan posisi dan intrval
perforasi.
2.
Penentuan Interval dan
Posisi Perforasi
Dalam
proses produksi minyak dapat terjadi water conning, dimana hal ini akan
memberikan pengaruh negatif terhadap perolehan minyak. Dengan fenomena gas dan
water conning tersebut, maka para ahli mencari hubungan antara laju produksi
kritis dengan parameter reservoir serta parameter produksi untuk menentukan
interval perforasi dan posisinya.
Þ
Metode Chierici
Beberapa anggapan yang digunakan
dalam metode ini untuk mendapatkan laju produksi kritis, adalah :
1.
Reservoir homogen
2.
Bidang kontak antar fluida
horizontal dan statis
3.
Pengaruh tekanan kapalier
diabaikan
4. Fluida reservoir incompresibel
5.
Aquifer terbatas sehingga tidak
merupakan tenaga pendororng
6.
Pengembangan gas cap
pelan-pelan, sehingga gradien potensial dapat diabaikan
Dengan anggapan-anggapan tersebut di
atas maka Chierici menurunkan persamaan dalam tujuan penentuan posisi dan
interval perforasi adalah sebagai berikut :
................................. (4-11)
.................................. (4-12)
dimana
:
Qow : laju
produksi maksimum minyak tanpa terjadi water conning, STB/hari
Qog : laju
produksi maksimum minyak tanpa terjadi gas conning, Mscfd
h : ketebalan zona
minyak, ft
Kho :
permeabilitas efektif horizontal minyak, md
y : fungsi yang tak berdimensi
Î : b/h :
panjang interval perforasi/ketebalan zone minyak
rDe :
(re/h)
Kvo :
permeabilitas efektif verikal minyak, md
sg :
Lg/h = jarak antara GOC-top
perforasi/ketebalan zona minyak
sw : 1
- sg
: Lw/h = jarak
antara WOC-bottom perforasi/ketebalan zona minyak
Dari
persamaan di atas, suatu syarat untuk tidak berproduksinya air dan gas bebas ke
permukaan adalah :
Qo £ Qow atau Qo £ Qog
Gambar
di bawah menunjukkan diagram sistem water dan gas conning.
5 £ rDe £ 80
0 £ Î £ 0,75
0,07 £ s £ 0,9
Penetuan
interval dan posisi perforasi dengan metode ini didasarkan pada gambar-gambar
tersebut.
Langkah-langkah
penentuan interval dan posisi perforasi dengan metode ini adalah :
1.
Hitung rDe
2.
Hitung Drog/Drow
3.
Ambil beberapa kemungkinan harga
(misalnya 0,1 ; 0,2 dan seterusnya)
4.
Dengan memakai grafik plot antara y vs Î (sesuai dengan harga rDe yang
telah dihitung) dan salah satu dari beberapa kemungkina harga Î, akan didapat y dan sg optimum berdasr harga yang telah dihitung
pada langkah 2. Bila aguifer dan gas cap, kondisi maksimum laju produksi kritis
secara teoritis memenuhi Qoptimum
= Qog = Qow.
5.
Hitung harga melalui Persamaan
(4-11) atau (4-12) dengan menggunakan harga-harga yang telah ditentukan pada
langkah 4.
6.
Dengan mengetahui kemampuan sumur
pada berbagai interval perforasi maka dari berbagai harga Qoptimum
yang telah dihitung pada langkah 5, dapat ditentukan harga Qoptimum
yang sesuai atau laju produksi kritis yang sesuai dengan sumur yang
bersangkutan
7.
Perhitungan-perhitungan tersebut
diulangi lagi untuk harga interval perforasi yang lain sampai diperoleh harga Qoptimum
yang sama atau hampir dama dengan Qactual.
Hubungan
antara rDe, Î, s dengan y ditunjukkan pada Gambar 4.17.
Þ
Metode Pirson
Persamaan -persamaan yang dibuat
Pirson untuk menetukan laju produksi kritis dalam tiga kasus sebagai berikut :
Untuk
kasus water conning (lihat gambar 4.16)
Untuk
kasus gas dan water conning yang terjadi bersama-sama seperti
yang terlihat pada gambar (4.18), laju aliran minyak maksimum dibagi menjaadi
dua aliran, pertama Qog yang diambil di atas bidang zo, disebut laju
aliran minyak maksimum tanpa gas dari gas conning, dan Qow yang
diambil bidang bagi zo, disebut laju aliran minyak maksimum tanpa
air dari water conning.
Persamaan-persamaan
tersebut dapat dituliskan sebagai berikut :
sehingga
Qo maksimum = Qog
+ Qow
......................................................................... (4-17)
dimana :
Qo maks :
laju produksi maksimum tanpa produksi air dan gas, bbl/hari
gw :
berat spesifik air
go :
berat spesifik minyak
gg :
berat spesifik gas
hc :
interval perforasi
D :
jarak dari puncak zone minyak ke dasar perforaasi, ft
zo :
jarak dari dasar zone minyak ke bidang bagi, ft
Harga-harga
D dan zo dapat dihitung dengan persamaan :
Langkah-langkah
penentuan interval dan posisi perforasi :
1.
Ambil beberapa kemungkinan harga hc
2.
Hitung D dengan persamaan
menggunakan persamaan (6-18)
3.
Hitung zo dengan
persamaan (6-19)
4.
Hitung harga-harga Qog
dan Qow melalui persamaan (6-15) dan (6-16)
5.
Hitung harga Q optimum
dengan persamaan (6-17)
6.
Dengan mengetahui kemampuan sumur
pada berbagai interval perforasi, maka dari berbagai harga Qoptimum
yang telah dihitung diatas, dapat ditentukan harga Qop yang sesuai
atau laju produksi kritis yang cocok untuk sumur yang bersangkutan.
7.
Dari harga Qopt yang
dipilih pada langkah 6, maka harga interval perforasi hc, dan posisi
D, untuk sumur yang bersangkutan dapat diketahui.
3.
Penentuan Densitas
Perforasi
Densitas perforasi adalah
jumlah lubang dalam casing per satuan panjang
(feet). Untuk menentukan densitas perforasi dapat menggunakan
penelitian yang dibuat oleh Muskat, dimana dihasilkan hubungan antara produktivitas ratio (Qp/Qo)
densitas perforasi untuk berbagai jarak penetrasi radial, diameter lubang
perforasi dan diameter casing. Hasil penelitiannya ditunjukkan pada Gambar
6.19.
dimana
:
.............................................................................. (4-20)
Qp : laju produksi maksimum sumur perforasi, bpd
Qo : laju produksi sumur open hole, bpd
Sp : faktor
skin perforasi, yang
tergantung pada diameter
perforasi, diameter sumur, dalam penembusannya dan sudut penembakannya.
Misalkan
suatu sumur dengan jari-jari casing 3 inchi, akan diperforasi pada suatu
interval dan posisi untuk ini menghasilkan harga Qp/Qo =
0.6 maka dari gambar 6.19 diperoleh bahwa perforasi ini dapat dilakukan dengan
harga density perforasi yang lebih kecil atau sama dengan 1. Sehingga apabila
digunakan peluru dengan diameter 1/2 in atau jari-jari 1/4 inch, maka density
perforasi yang harus digunakan adalah 4 hole/ft.
Hubungan
ini diperluas untuk suatu variabel harga dari densitas perforasi untuk suatu
varibel harga dari densitas perforasi x jari-jari lubang perforasi yang berlaku
untuk aliran steady state dalam formasi yang homogen. Kurva garis tebal
pada gambar menunjukan jari-jari casing 3 in. dan garis putus-putus adalah
untuk jari-jari 6 inchi.
4.
Perhitungan Diameter
Perforasi
Pada gambar dibawah ini menunjukan
bahwa untuk mendapatkan rate sebesar
100 bbl/day, dengan kedalaman penetrasi perforasi 12 inchi (305 mm) dan dimeter
lubang perforasi sebesar 0,375 inchi (9,5) dibutuhkan drowdown (DP) sebesar
1,0 psi.
Jadi
dengan menggunakan persamaan Fanning diatas dapat ditentukan diameter lubang
perforasi pada rate (laju aliran) yang diinginkan, dengan catatan bahwa parameter-parameter yang lain sesuai seperti
yang tertera pada grafik, yaitu :
Ø f (friction faktor) =
0.85
Ø L (perforation lengtih) =
12
Ø (spesific gravity minyak) = 0.85
K.C. Hong, mengambarkan pengaruh
pola perforasi terhadap productivity ratio, seperti terlihat pada
Gambar 6.22.
Gambar
tersebut menggambarkan productivity ratio versus kedalaman penetrasi
perforasi untuk tiga pola perforasi.
Ketiga
pola tersebut disusun secara vertikal dan lurus, dimana pola pertama (yang
terbawah) mempunyai phasing 0o
yang disebut “srtip Shooting”, pola yang kedua
(ditengah) mempunyai phasing 90o dan pelubangan dilakukan pada suatu
bidang horizontal (simple pattern),
sedangkan pola ketiga (teratas) juga mempunyai phasing 90o tetapi
pelubangan dilakukan pada dua bidang horizontal . Permeabilitas vertikal dan
hirizontal diasumsikan sama.
Pola
pertama (strip shooting) menghasilkan productivity ratio yang lebih rendah bila dibandingkan dengan kedua
pola lainnya. Hal ini disebabkan oleh distribusi tekanan pada kedua pola
menghasilkan drow-down yang lebih
merata untuk memproduksi fluida yang lebih besar.
Pada formasi yang isotropic
(permeabilitas horizontal dan vertikal sama), keseragaman besarnya drow-down
dihubungkan terhadap jarak antara
pelubangan yang berdekatan. Jarak yang terbesar terdapat pada pola ketiga (staggered pattern), (staggered pattern), sehingga pola
tersebut mempunyai productivity ratio yang
tertinggi.
Kedalaman Penetrasi Perforasi
Dari hasil penelitian Stanley Locke,
digambarkan pengaruh dari kedalaman
penetrasi perforasi (perforation length) terhadap productivity ratio, seperti
terlihat pada gambar 6.23. Productivity ratio mencapai harga maksimum
pada kedalaman penetrasi kira-kira 12 inch (395 mm). Juga terlihat bahwa productivity
ratio akan makin meningkat dengan pertambahan kedalaman penetrasi
perforasi.
Pada Gambar 6.24, digambarkan untuk
suatu kedalaman penetrasi yang sama, maka besarnya productivity ratio
akan bertambah dengan bertambahnya density perforasi. Jadi density perforasi
akan mempengaruhi besarnya productivity
ratio pada suatu harga kedalaman penetrasi dari perforasi.
5.
Perhitungan Faktor Skin
Perforasi
Laju aliran dari formasi kedalam
sumur pada perforted casing completion,
dipengaruhi oleh kerusakan (damage)
dan lubang perforasi. Dalam hal ini keduanya dapat dikatakan sebagai skin yang
sama secara kwantitatif dapat berharga positif atau negatif. Untuk selanjutnya
masing-masing dinyatakan sebagai skin
damage (Sd) dan skin perforasi (Sp).
Sedangkan hasil dari analisa tes tekanan memberikan
harga skin total (St), dimana :
St = Sd + Sp
...................................................................................................
(4-19)
Teori analisa fluida menuju ke sumur
menganggap geometri aliran radial dengan batas-batas r = rw
(dinding.formasi) dan r = re (batas pengurasan). Apabila faktor skin
diperhitungkan sebagai kehilangan tekanan, maka persamaan menjadi :
dimana
:
S = St
untuk sumur berselubung (ber-casing)
St = Sd
atau Sp = 0 untuk open hole
completion
Dalam hal ini, makin kecil diameter
perforasi, semakin besar skin perforasinya. Dan makin banyak lubang juga makin
dalam perforasinya, maka skin semakin kecil.
Untuk menentukan harga skin faktor
akibat perforasi (Sp), K.C. Hong telah membuat beberapa grafik seperti pada
gambar 6.25 (simple pattern) dan
gambar (4.26) (Staggered patterns)
Gambar 6.27 berfungsi untuk koreksi
bila diameter perforasi 0,25 dan 1,0 inch.
Langkah-langkah untuk menentukan
(Sp) dengan menggunakan grafik sebagai berikut :
1.
Tentukan harga :
*
Diameter sumur (dw) yaitu diameter
outside casing (OD) ditambah dua kali ketebalan semen.
*
Ratio permeabilitas vertikal
dengan horizontal, kv/kh
*
Pola perforasi (yaitu harga
perforations phasing, 0 dan masing-masing perforasi, h)
*
Depth of penetration (dihitung
dari muka semen), ap.ap adalah total Berea Sandstone sebagai dasarnya, yang
memiliki compresive strength sebesar 6500 psi. Jika harga compresive strength
untuk suatu formasi diketahui, harga ap dapat dikoreksi dengan menggunakan
persamaan sebagai berikut :
*
Bullet Perforation :
........................................................................... (4-23)
*
Jet Perforation :
dimana :
Pf = penetration in formation, in = ap
PB = TCP
pada Beroa Sandstone, in
CB = compressive strength pada Barea Sandstone,
6500 psi
Cf =
compressive strength pada formasi, psi
2.
Gunakan Gambar 4-25 (untuk simple
patterns) atau Gambar 6-26 (untuk staggered patterns) untuk
mendapatkan harga (Sp). Mulailah dari sisi kiri nomogram dan dibuat garis
penghubung dengan parameter-parameter dari langkah 1.
3.
Dengan memakai Gambar 4.27,
dilakukan koreksi harga Sp dari langkah 2 untuk diameter perforasi yang
berbeda. Setelah harga Sp didapat, maka dapat dihitung harga skin total (St)
apabila skin damage (Sd) diketahui, sehingga perhitungan productivitas sumur
bisa dilakukan dengan menggunakan Persamaan 4-21. Sedangkan untuk menetukan productivity
ratio-nya dapat menggunakan persamaan :
........................................ (4-25)
Apabila St berharga negatif, berarti PR akan mempunyai
harga lebih dari satu. Jadi dapat disimpulkan bahwa laju produksi sumur yang
diperforasi dapat lebih besar dari laju produksi sumur pada kondisi open
hole.
2.
Dengan memakai Gambar 4.27,
dilakukan koreksi harga Sp dari langkah 2 untuk diameter perforasi yang
berbeda. Setelah harga Sp didapat, maka dapat dihitung harga skin total (St)
apabila skin damage (Sd) diketahui, sehingga perhitungan productivitas sumur
bisa dilakukan dengan menggunakan Persamaan 4-21. Sedangkan untuk menentukan productivity
ratio-nya dapat menggunakan persamaan :
........................................ (4-25)
disimpulkan bahwa laju produksi sumur yang diperforasi dapat lebih besar dari
laju produksi sumur pada kondisi open hole.
6.
Perhitungan Pressure Drop Perforasi
Salah satu penyebab rendahnya
productivitas sumur pada perforated
completion adalah karena program pelubangan selubung (perforasi) yang tidak
memadai. Apabila kondisi ini terjadi akan berakibat timbulnya suatu hambatan
terhadap aliran atau bertambahnya
penurunan tekanan (pressure drop)
dalam formasi.
Oleh
karena itulah, Carl Granger dan Kermit Brown telah menggunakan analisa Nodal
untuk mengevaluasi besarnya penurunan tekanan melalui lubang perforasi, pada
berbagai harga density perforasi.
Analisa Nodal disini, diterapkan
untuk Standart Perforated Well,
dengan menganggap perforated hole turn 90o
dan tidak terjadi damage zone
disekeliling lubang bor.
Anggapan-anggapan lain yang
digunakan dalam mengevaluasi pressure drop melalui lubang perforasi ini adalah
:
1.
Permeabilitas dari crushed zone
atau compact zone yaitu :
*
dari permeabilitas formasi apabila
diperforasi dengan tekanan overbalanced (tekanan hidrostatis dalam lubang bor
lebih besar daripada tekanan formasi).
*
dari permeabilitas formasi, apabila
diperforasi dengan tekanan underbalanced
(tekanan hidrostatis dalam lubang bor lebih kecil daripada tekanan formasi).
2.
Ketebalan crushed zone adalah 1/2
inch.
3.
Infiniti reservoir, sehingga Pwst
tetap pada sisi dari compact zone, jadi
pada closed outer boundary, konstanta - 3/4 pada persamaan Darcy dihilangkan.
4.
Untuk mengevaluasi pressure drop
melalui lubang perforasi digunakan persamaan dari Jones, Blount dan Galze.
Open Perforated Pressure Drop
Persamaan dibawah ini hanya berlaku
untuk sumur minyak pada umumnya, yaitu sebagai
berikut :
............................. (4-27)
dimana
:

dimana
:
Bo = faktor volume formasi,
bbl/STB
ro = densitas minyak, lb/cuft
Lp = perforation
length, ft
Kp =
permeabilitas compact zone, md (kp = 0,1 k formasi, jika overbalanced dan kp
= 0,4 k formasi, jika konsidi underbalanced).
rp = jari-jari
lubang perforasi, ft
re = jari-jari
compact zone, ft (re = rp + 0,5 inch)
mo = voscositas minyak, cp.
0 Response to "Perforated Completion "
Post a Comment