Adapun
dasar operasi gas lift untuk mengangkat minyak dari dasar sumur ke permukaan,
adalah sebagai berikut :
-
Pengurangan atau penurunan gradien fluida di dalam
tubing.
-
Pengembangan gas yang diijeksikan ke dalam sumur.
-
Pendorongan fluida reservoir ke permukaan oleh gas
injeksi bertekanan tinggi.
Ketiga
faktor diatas dapat bekerja sendiri-sendiri atau merupakan kombinasi dari ketiganya.
Proses pengangkatan fluida pada gas lift ini dapat ditunjukkan pada gambar
3.42.
Gambar 3.42 (A), (B), (C) dan (D)
menunjukkan urutan proses gas lift, yaitu kondisi sumur mula-mula (A), proses
injeksi gas (B), proses terangkatnya fluida ke permukaan (C), dan kondisi
setelah injeksi (D). Fluida yang berada di dalam annulus antara tubing dan
casing ditekan dengan gas injeksi, sehingga permukaan fluidanya akan turun di
bawah valve, selanjutnya valve ini (valve paling atas) akan membuka, sehingga
gas injeksi akan masuk ke dalam tubing. Dengan bercampurnya gas injeksi dengan
fluida reservoir, maka densitas minyak akan turun dan mengakibatkan gradien
tekanan minyak berkurang sehingga akan mempermudah fluida reservoir mengalir ke
permukaan.
Ditinjau dari cara penginjeksian
gas, maka gas lift dibedakan menjadi dua, yaitu :
-
Continuous gas lift, yaitu gas diinjeksikan secara
terus menerus ke dalam annulus melalui valve yang dipasang pada tubing, maka
gas akan masuk ke dalam tubing.
-
Intermittent gas lift, yaitu gas diinjeksikan secara
terputus-putus pada selang waktu tertentu, sehingga dengan demikian injeksi gas
merupakan suatu siklus dan diatur sesuai dengan laju fluida yang mengalir dari
formasi ke lubang sumur.
Pertimbangan utama yang digunakan
dalam penentuan kedua cara tersebut adalah tekanan dasar sumur (BHP) dan
productivity index (PI). Ada empat kategori pemakaian gas lift yang dianjurkan,
seperti pada tabel 3-8.
Tabel 3-8. Kategori
Pemakaian Gas Lift7)
PI
|
BHP
|
Sistem Injeksi
|
Tinggi
|
Tinggi
|
Continuous
|
Tinggi
|
Rendah
|
Intermittent
|
Rendah
|
Tinggi
|
Intermittent
|
Rendah
|
Rendah
|
Intermittent
|
dimana :
PI tinggi : > 0.5
BBL/hari/psi
PI rendah : < 0.5
BBL/hari/psi
BHP tinggi : artinya
dapat mengangkat kolom cairan minimum 70% dari kedalaman sumur.
BHP rendah : kolom
cairan yang terangkat kurang dari 70% dari kedalaman sumur.
A. Continuous Gas Lift
Continuous gas lift merupakan proses
pengangkatan fluida dari suatu sumur dengan menginjeksikan gas bertekanan yang
relatif tinggi secara terus menerus ke dalam tubing, dengan maksud untuk
meringankan kolom cairan yang ada dalam tubing tersebut. Karena penginjeksian
gas dilakukan terus menerus, maka memerlukan kesinambungan aliran minyak dari
formasi ke dalam sumur dengan laju yang cukup tinggi. Prinsip kerja dari
continuous gas lift adalah sebagai berikut seperti ditunjukkan dalam gambar
3.43.
-
Pada posisi A menunjukkan naiknya minyak dalam tubing
dan casing adalah sama, yang mana tinggi permukaan cairan ini tergantung dari
tekanan formasi itu sendiri. Makin besar tekanan formasi, makin tinggi
permukaan cairan yang terjadi. Selama periode penutupan jarak antara A dan B
disebut static submergence.
-
Pada posisi B menunjukkan adanya gas yang diinjeksikan
dengan tekanan tinggi ke dalam annulus (antara tubing dan casing) agar minyak
dalam annulus tertekan ke bawah sedangkan minyak dalam tubing akan naik.
Semakin banyak volume minyak di annulus yang dipindahkan, maka semakin tinggi
permukaan cairan di dalam tubing, meskipun ada sebagian gas yang masuk kembali
ke dalam formasi karena lapisan cukup permeable. Tekanan gas akan menjadi
maksimum, jika fluida di dalam annulus sudah mencapai dasar/kaki tubing dan
ditunjukkan oleh tingginya permukaan cairan di dalam tubing.
-
Pada posisi C menunjukkan adanya gas injeksi yang
mengalir masuk ke dalam kaki tubing. Jika gas tersebut ditambah sedikit, mulai
saat itu gas yang masuk ke dalam tubing akan bercampur dengan minyak, sehingga
kepadatan volume campuran tersebut akan berkurang.
Dalam
analisis vertikal lift dibagi dua bagian, yaitu aliran dibawah titik injeksi
dengan GLR formasi dan aliran diatas titik injeksi dengan GLR formasi + GLR
injeksi.
Dari gambar
3.44 dapat dibuat suatu persamaan sebagai berikut:
Pwf = Pwh
+ Gfa (L) + Gfb (D - L) ....................................................... (3-149)
dimana :
Pwf =
tekanan aliran dasar sumur, psi
Pwh =
tekanan kepala sumur, psi
Gfa =
gradien aliran rata-rata di atas titik injeksi, psi/ft
L =
kedalaman titik injeksi
Gfb =
gradien aliran rata-rata di bawah titik injeksi, psi/ft
D =
kedalaman sumur, ft.
B. Intermittent Gas Lift
Proses pengangkatan cairan pada intermittent
gas lift berbeda dibanding dengan countinuous gas lift. Pada continuous gas
lift kolom cairan dicampur dengan gas injeksi untuk mengurangi gradien kolom
cairan sehingga tekanan aliran di dalam tubing turun. Sedangkan pada
intermittent gas lift, gas diinjeksikan dengan tekanan tinggi (lebih besar dari
tekanan kolom cair), sehingga cairan terangkat akibat pengembangan dan
pendorongan gas injeksi.
Proses pengangkatan cairan pada
intermittent gas lift ditunjukkan pada gambar 3.45. Sedangkan
kelakuan tekanan dasar sumur selama proses tersebut ditunjukkan pada gambar
3.46.
Intermittent gas lift merupakan
proses yang berulang dan dapat dibagi dalam tiga periode (Gambar 3.46), yaitu :
1.
Periode aliran masuk.
Ditunjukkan
oleh distribusi tekanan dari awal sampai titik A. Selama periode ini cairan
mengalir dari reservoir masuk ke dalam lubang sumur dan terkumpul di dalam
tubing di atas katup (valve) operasi. Selama periode ini valve dalam keadaan
tertutup. Kenaikan tekanan yang ditunjukkan dalam kurva diakibatkan oleh
bertambahnya cairan yang masuk ke dalam tubing.
2.
Periode pengangkatan.
Ditunjukkan
oleh kurva dari titik A sampai dengan titik D. Apabila cairan yang terkumpul di
dalam tubing sudah cukup, maka valve akan terbuka dan gas injeksi bertekanan
tinggi masuk ke dalam tubing untuk mengangkat slug (kolom) cairan ke permukaan.
Dari kurva tersebut terlihat bahwa pada saat valve terbuka terjadi kenaikan
tekanan dalam tubing yang tajam sehingga mencapai maksimum (kurva BC) kemudian turun (kurva CD). Turunnya tekanan ini disebabkan
oleh penurunan tekanan dalam casing dan pengembangan gas dalam tubing.
3.
Periode penurunan Tekanan.
Ditunjukkan
oleh kurva DE, dimana setelah valve tertutup dan slug terangkat ke permukaan,
maka pengaruh tekanan injeksi hilang. Pada kurva tersebut terlihat bahwa,
penurunan tekanan terjadi sedikit demi sedikit dan hal ini disebabkan oleh
cairan yang tidak ikut terangkat ke permukaan jatuh kembali ke dasar sumur,
sehingga menimbulkan tekanan balik. Tekanan tubing mencapai minimum pada titik
E, kemudian proses berulang ke inflow periode (perioda masuk aliran).
ini digunakan untuk apa gan, bingung
ReplyDelete